Thursday, February 1, 2007

IKHLAS DALAM BERAMAL

PENDAHULUAN
IKHLAS BERAMAL !!!! kiranya motto itu sudah sangat melekat dan sangat familier di telinga kita khususnya pegawai negeri unit Departemen Agama. Mungkin, kalimat itu merupakan suatu ajakan atau setidaknya harapan agar setiap pegawai negeri yang berada di lingkungannya dapat menunaikan tugasnya dengan ikhlas. Karena mau tidak mau, Departeman Agama yang merupakan departemen yang mengurus masalah keagamaan, diharapkan dalam setiap pekerjaannya dapat mencerminkan nilai-nilai keagamaan.
Namun, sebenarnya pekerjaan seperti apa yang disebut “Ikhlas” itu? apakah pekerjaan yang dikerjakan dengan bekerja sepenuh hati tanpa pamrih, tidak mengharap balasan apapun atau rela walaupun hanya diupah alakadarnya (dengan gaji yang pas-pasan atau bahkan kurang), yang terpenting mendapat ridho dan pahala dari Allah SWT. Atau, ikhlash itu adalah bekerja secara profesional, bekerja keras, dikerjakan dengan sepenuh hati, acountable, dan mendapat imbalan yang sepadan (bahkan kalau bisa, lebih) dengan pekerjaannya, sehingga mencukupi kebutuhan pribadi dan keluarga yang mana dengan tercukupinya kebutuhan tersebut diharapkan tidak menjadi rongrongan dan hambatan bagi penunaian tugasnya sehari-hari. Maka, tidak terdapat lagi di IAIN misalnya yang kini masih banyak dosen “luar biasa” yang gajinya tidak mencukupi memaksa mereka untuk menjadi dosen “biasa di luar” sekedar untuk menombok setoran. Ada seorang kawan yang bergurau kayaknya sekarang perlu membalik motto DEPAG itu dari IKHLAS BERAMAL menjadi BERAMAL SEIKHLASNYA saja! untuk menyesuaikan antara pekerjaan dan gaji yang didapat, yang penting ada ikhlasnya walau sedikit!
Kita kembali pada tema pokok makalah ini yakni tentang ikhlas. Sebetulnya seperti apa pekerjaan yang dikatagorikan “ikhlas”? apa hakikat ikhlas itu? Apa dan bagaimana konsep ikhlas, dan bagaimana hadis -- sebagai pedoman utama seorang muslim setelah al-Qur’an -- berbicara tentang “ikhlas”? apa manfaatnya ? Makalah ini mencoba untuk merambah makna ikhlas berdasarkan keterangan yang terdapat dalam hadis-hadis Nabi yang tentu saja tidak lepas dari pemahaman al-Qur’an tentangnya sehingga dapat ditemukan pengertian ikhlas secara utuh.

MAKNA IKHLAS
Kata ikhlas berasal dari kata خ - ل - ص yang artinya : tulus hati, dengan hati yang bersih.[1] Bersih, jenih, selamat, terhindar, melepaskan diri dari (bebas)….[2] Ikhlas berarti pula tauhid karena melepaskan diri dari selain Allah, dan kebalikan dari ikhlas itu adalah syirik.[3]
Untuk itu mengapa surat ke 112 dinamakan dengan surat al-Ikhlas, karena surat ini membicarakan tentang tauhid yang murni, membersihkan diri dari sifat-sifat yang kurang, mengosongkan dari setiap bentuk penyekutuan, perbuatan seorang hamba untuk melepaskan diri dari perbuatan syirik, atau menjauhkan diri dari perbuatan yang menyebabkan diri masuk api neraka. [4]
Dalam pelacakan hadis-hadis yang dibahas dalam makalah ini, dilakukan melalui CD-ROM Musu’ah al-Hadits al-Syarif, Hadits Encyclopedia al-Kutub al-Tis’ah.. Darinya ditemukan ada 32 buah hadis yang bersangkut-paut dengan ikhlas ini. Penulis tidak menurunkan semua hadis dalam makalah ini, cukup dengan memilih dan mengutip beberapa hadis saja yang dianggap penting. Disamping permasalahan diatas, banyak dari hadis itu yang isi/matannya atau maknanya sama walau dengan jalur sanad yang berbeda.

Ikhlas Merupakan Pekerjaan Hati
Ikhlas merupakan pekerjaan hati. Pekerjaan hati yang paling penting menurut Imam al-Ghazali (505) adalah niat, ikhlas dan shiddiq.[5] Nurkholish Madjid memaparkan bahwa taqwa, tawakkal dan ikhlas semuanya menunjukkan berbagai kualitas pribadi seorang yang beriman. Kualitas-kualitas itu membentuk simpul-simpul keagamaan pribadi, sebab semuanya terletak dalam inti kedirian seseorang yang berpangkal pada batin dalam lubuk hatinya.[6] Ibn Atho’illah al-Sakandari menyatakan bahwa “Bermacam-macam jenis amal yang nampak itu karena adanya bermacam-macam keadaan yang datangnya dari dalam hati seseorang, amal perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriyah yang tegak, sedangkan ruh amal perbuatan itu ialah adanya rahasia keikhlasan didalamnya”. [7] Keikhlasan atau kemurnian batin merupakan nilai yang amat rahasia dalam diri seseorang. Sebagai ruh amal perbuatannya, ia tidak nampak begitu saja oleh orang luar dan hanya diketahui oleh yang bersangkutan sendiri, tapi juga oleh Allah. Pada tingkat pribadi seseorang, keikhlasan terasa sebagai tindakan tulus tehadap diri sendiri dalam komunikasinya dengan Sang Maha Pencipta dan usaha mendekatkan diri kepadanya. [8]
Untuk itu ikhlas tidak bisa dilepaskan dari niat, sehingga amatlah tepat imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (667 H) meletakkan hadis niat pada Ikhlas dan meletakkannya pada bab pertama dalam pembahasan bukunya Riyadus Sholihin.[9] Yakni hadis yang berbunyi :
حَدَّثَنَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ *
Artinya : Sesungguhnya setiap pekerjaan diiringi dengan niat, dan untuk suatu urusan sesuai dengan apa yang diniatkan. Oleh karena itu, barang siapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya. dan barang siapa yang hijrahnya untuk kepentingan kehidupan dunia atau karena seorang perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang ia niatkan tersebut. (HR. Bukhari)[10]
Fungsi dan peran niat itu sangat menentukan sehingga sebagian ulama menyimpulkan :
رب عمل صغير تعظمه النية, ورب عمل كبير تصغره النية

Terkadang, pekerjaan kecil menjadi besar (dampaknya) karena (bagus) niatnya, dan pekerjaan besar menjadi kecil (dampaknya) karena (salah) niatnya[11]
Kata ikhlas, atau kata yang bersuku kata dengan ikhlas dapat ditemukan dalam al-Qur’an surat al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi :
وما امروا إلا ليعبدوا الله مخلصين اه الدين حنفاء
Artinya :
Dan tiada diperintahkan mereka, melainkan supaya mereka beribadah kepada Allah seraya mengikhlaskan taatnya kepada Allah, lagi condong kepada kebenaran.
Adapun hakikat niat itu adalah keadaan atau sifat yang timbul dalam hati manusia yang menggerakkan atau mendorongnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan, dan tempatnya adalah hati manusia. Niat dan ikhlas merupakan dua faktor yang tidak boleh dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya, mengingat erat hubungan keduanya, tak ubahnya laksana pohon dengan bibit.
Jadi yang dimaksud dengan pekerjaan yang ikhlas adalah pekerjaan yang dilaksanakan dengan serius, penuh tanggung jawab, diniatkan sebagai amal bakti dengan mengharapkan keridha-an Allah semata.
[Y01]
Ikhlas Merupakan Ruhnya Setiap Pekerjaan
Islam cukup besar menaruh perhatiannya terhadap niat atau perasaan yang menyertai amal perbuatan manusia. Karena nilai amal manusia pada hakikatnya kembali kepada si pemiliknya, dan tergantung kepada niatnya.
Amal kebajikan yang kita laksanakan semata-mata karena Allah, yakni semata-mata mengharap keridhaan-Nya, itulah yang disebut dengan ikhlas. Ikhlash itulah ruh sesuatu amal, dan amal kebajikan, amal ibadah yang ditunaikan seseorang yang tidak disertai ikhlas, maka amal yang demikian itulah, amal yang tidak mempunyai ruh seperti sabda Rasulullah :
لا يقبل الله من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه (رواه ابن ماجه)
Allah tidak menerima pekerjaan seseorang, kecuali pekerjaan itu didasari dengan ikhlas dan hanya untuk mencari keridhaan Allah.
Hal ini sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Lail ayat 18 - 21 :
الذى يؤتى ماله يتزكى * وما لاحد عنده من نعمة تجزى * إلاابتغاء وجه ربه الاعلى * ولسوف يرضى
Artinya :
Orang yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah) untuk membersihkan dirinya. Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelakdia benar-benar mendapat kepuasan.
Nampaknya kita perlu renungi apa yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali tentang ikhlas yang menyatakan bahwa seluruh pekerjaan itu akan sia-sia tanpa adanya ikhlas.
فالناس كلهم هلكى إلا العالمون, والعالمون كلهم هلكى إلا العاملون, والعاملون كلهم هلكى إلا المخلصون, والمخلصون على خطر عظيم. فالعمل بغير نية عناء, والنية بغير إخلاص رياء[12]. وهو للنفاق كفاء ومع العصيان سواء…….
Artinya :
Seluruh manusia akan binasa kecuali yang berilmu, dan setiap yang berilmu akan binasa kecuali yang mengamalkannya, dan orang yang mengamalkan ilmu akan binasa kecuali orang yang ikhlas, dan orang yang ikhlas itu adalah dalam bahaya besar. Maka pekerjaan yang tidak disertai niat adalah tertawan, dan niat tanpa ikhlas adalah riya.Pekerjaan seperti itu adalah cukup untuk orang yang munafik dan orang yang gemar melakukan dosa…..
Ada dua buah cerita yang cukup menarik yang dituturkan dalam kitab Ihya Ulumuddin yang diambil dari dua buah riwayat (yang satu hadis dan yang satunya cerita Israiliyat) riwayat pertama adalah : Yang pertama-tama akan ditanyai di hari kiamat adalah tiga tiga golongan, pertama seorang yang Allah berikan kepadanya ilmu. Maka ketika ditanya orang itu, apa yang engkau perbuat dengan ilmu-mu itu? orang itu menjawab, aku bangun siang dan malam untuk mengabdi pada ilmu, aku belajar dan aku ajarkan ilmu yang aku peroleh itu demi pengabdianku pada bangsa dan negara. Allah bersabda : Bohong kamu!. Demikian pula malaikat membohongkannya: sesungguhnya kamu berbuat demikian itu supaya kamu dikatakan orang alim, orang pinter, cendikiawan, ilmuwan? Kemudian ditanya seseorang yang oleh Allah berikan kelebihan berupa harta benda kemudian Allah bertanya, Aku telah berikan kamu kelebihan harta benda, kamu apakan harta itu? kemudian orang itu menjawab : aku dermakan selalu setiap saat. Alah bohong kamu, demikian Allah dan malaikat membantah : . …. Kamu berbuat demikian itu, supaya kamu dibilang orang kaya, kan? Biar dibilang kamu dermawan. Kemudian seseorang yang meninggal dunia di medan pertempuran kemudian ditanya oleh Allah dan Malaikat, apa yang kamu perbuat dengan nyawamu itu? lalu ia menjawab, khan aku mati karena jihad fi sabilillah, yakni perang untuk membela namaMu. Ya, Allah. kamu bohong ! Kata Allah dan Malaikat, kamu ikut perang itu biar dibilang jagoan, biar dibilang preman, biar dibilang kamu pahlawan, hingga kamu tewas?! [13]
Sedangkan cerita kedua tentang seorang pemuda yang alim dan ahli ibadah. Suatu ketika terdengarlah kabar bahwa di suatu tempat ada sekelompok orang yang menyembah bukan menyembah Allah melainkan menyembah sebuah pohon Beringin besar yang penampilan dari pohon itu cukup angker. Tertarik untuk memberantas kemusyrikan, maka bergegaslah orang tersebut dengan memanggul sebuah kapak besar yang sudah diasahnya dengan tajam untuk menebang pohon beringin angker itu. Kemudian iblis penghuni pohon beringin itu berniat untuk menghalangi maksud si pemuda dengan menjelma menjadi seorang kakek-kakek lalu berkata : mau kemana hai ki sanak? Aku akan menebang pohon beringin yang angker itu! jawab si pemuda. Kemudian si Iblis balik bertanya : memangnya ada apa dengan pohon itu? itu pohon adalah pohon kemusyrikan, banyak orang menyembah ponon itu, kalau pohon itu tumbang khan tidak disembah lagi!! Jawab si pemuda. Kemudian si Iblis memberi nasehat : begini ki sanak, lebih baik kau urungkan niat tersebut, ngapain, gitu aja kok repot!!!! Mendingan urus dirimu sendiri, kamu pulang ke pondokmu, kamu belajar, atau kamu beribadah deh dengan khusuk! Tidak ! jawab si pemuda, kalau kau menghalang-halangi maksudku, akan kutebas pula lehermu itu. Ini merupakan tugasku, inilah manifestasi dari bentuk ibadahku!!
Maka terjadilah pertarungan yang seru antara si Iblis dengan si pemuda, dan akhirnya si Iblis kalah. Tahan ki sanak…… aku nyerah deh, bebaskan aku…..suer aku sakit….. Demikian si Iblis merintih. Ki sanak……. Kiranya si pemuda menaruh kasihan maka dilepaskanlah si Iblis yang menjelma menjadi kakek-kakek itu. kemudian si Iblis berkata : gini deh ki sanak…… sesungguhnya gusti Allahmu itu ngak nyuruh kamu nebang pohon itu khan!! Itu kan cuma intepretasi kamu, itu cuma gagasanmu saja khan????? Gini deh lo … ki sanak, sesungguhnya….. em….m….. gusti Allahmu itu akan menumbangkan pohon beringin itu. Ia akan mengutus orang lain untuk menebangnya, yang jelas bukan kamu. kamu batalkan saja deh niatmu itu, wong itu kehendakmu saja khan…? Garepanmu saja khan…? mBok ya jangan ngarang-ngarang gitu. Iya toh… ? Begini kisanak…., kamu seorang pemuda pakir khan?? Tentu saja semua orang memandangmu dengan sebelah mata karena kefakiranmu itu, dan kamu sebetulnya mau jadi orang yang punya supaya kamu bisa bersedekah kepada saudara-saudara kamu yang senasib denganmu. Si pemuda rada bengong mendengar perkataan si kakek seraya berkata : kok kakek tahu…? Betul, demikianlah keadaanku! Kemudian si Iblis berkata : Kalau begitu, kamu pulang saja ke rumahmu, besok pagi, subuh-subuh, ketika kamu bangun tidur, kamu akan mendapatkan uang sebanyak dua dinar di bawah bantalmu. Dengan uang itu kamu bisa berbuat untuk dirimu dan juga untuk saudara-saudaramu, bersedekahlah untuk mereka! Maka pulanglah si pemuda tadi. Pagi harinya ketika pemuda itu bangun tidur, didapatinya uang sebanyak dua dinar di bawah bantalnya. Bener perkataan si kakek….. memang nebang pohon itu bukan tugasku….. dan bener pula tentang uang dua dinar itu…. kemudian si pemuda berbelanja untuk dirinya dan sisanya dibelanjakan untuk orang yang senasib dengannya.
Pada hari kedua ia dapati lagi uang dinar itu di bawah bantalnya. Namun pada hari ketiga, si pemuda itu tidak menemukan apa-apa dibawah bantalnya itu. Betapa marahnya si pemuda itu, sambil terpogoh-pogoh ia panggul kapak yang empat hari lalu ia bawa untuk menebang pohon beringin itu dan ia bergegas untuk menebangnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan si Iblis yang menjelma dalam tentuk kakek-kakek seperti jelmaan pertama kemudaian bertanya : hai kisanak mau kemana? Tanyanya. Si pemuda menjawab : akan ku potong pohon itu! kemudian si Iblis berkata : alah,….. percuma saja, pulang saja ente…… ngak bakal kuat nebang pohon itu…..udah…..pulang saja!!! betapa marahnya si pemuda mendengar perkataan tersebut seraya berkata : kamu mau menghalangi jalanku, kutebas batang lehermu ! katanya seraya menerjang si kakek. Tapi, tanpa ia duga, si kakek jadi lebih kuat dan gesit gerakannya. Akhirnya si pemuda keteter dan menyerah kalah. Ente berhenti dari niat busukmu itu atau ku penggal lehermu?? Kata si kakek geram. Si pemuda bingung, mengapa si kakek jadi lebih kuat dan gesit gerakannya hingga ia terjatuh kalah, bahkan kekuatannya sirna sama sekali. ampun kek… lepaskan….tolong lepaskan….. rintih si pemuda. Kemudian si pemuda bertanya : kek…. Mengapa pertama kali aku melawanmu, kamu terkapar kalah dan begitu mudahnya aku mengalahkanmu, tapi, kali ini kenapa aku yang kalah? Si kakek menjawab : karena, perkelahian kita yang pertama didasari oleh kemarahan kamu yang karena Allah…. Maka gusti Allahmu itu membantumu hingga aku kalah, tetapi hai anak muda, untuk kali ini, kamu datang dan marah kepadaku karena nafsumu dan demi uang dinar itu, khan…… makanya kamu kalah! [14]

Ikhlas Dapat Menghapus Dosa
Rasulullah bersabda :
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لِأَهْلِ الْإِخْلَاصِ ذُنُوبَهُمْ..(رواه البخارى)……
Manusia yang berjiwa ikhlas terhindar dari hawa nafsu yang buruk dan bebas dari kekeliruan dan kesalahan, karena ikhlas menyinari jiwa lebih terang daripada kesulitan-kesulitan yang menyempitkan, sehingga ia bisa tenang berdiri dihadapat Allah sabil bertaubat dan mengharapkan rahmat-Nya dengan rasa takut kepada siksa-Nya
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ لَا وَالَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا فَعَلْتُ قَالَ بَلَى قَدْ فَعَلْتَ وَلَكِنْ غُفِرَ لَكَ بِالْإِخْلَاصِ (رواه أحمد)

Ikhlas Menentukan Diterima atau Ditolak suatu Ibadah
Niat yang benar dan hati yang ikhlas, keduanya kelihatan seperti amal duniawi biasa. Tetapi niat dan keikhlasannya itu menjadikan amalnya naik sebagai ibadah yang diterima. Demikian pula niat yang buruk, membawa amal ibadah murni terseret kebaawah, bahkan sampai ke lembah maksiat yang jelek. Jika telah demikian, seseorang tidak mendapatkan apa-apa lagi dari pekerjaannya kecuali kegagalan dan kerugian
Semua amal yang baik, bila dilakukan dengan niat yang baik dan ikhlas akan mendapat imbalan pahala ibadah. Pekerjaan, walaupun sedikit, tetapi dikerjakan dengan ikhlas maka akan menghasilkan.
Ikhlas merupakan syarat diterimanya segala amal ibadah, sebagaimana firman Allah :
وما امروا إلا ليعبدوا الله مخلصين اه الدين حنفاءويقيموا الصلاة ويؤتواالزكاة وذلك دين القيمة (البينة :5)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (al-Bayinah : 5)

Demikian juga ketika kita, baik selaku mahasiswa ataupun dosen, dalam belajar hendaklah ikhlas, karena barang siapa yang belajar atau mengajar tidak karena ikhlas, tetapi mencari popularitas, mencari nilai yang tinggi, misalnya, di hari kiamat tidak akan dimasukkan ke surga bahkan mencium baunyapun tidak.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْهُنَائِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ خَالِدِ بْنِ دُرَيْكٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *(رواه الترمذى)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَسُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَا حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ أَبِي طُوَالَةَ عَنْ سَعِيدِ ابْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا قَالَ أَبُو الْحَسَنِ أَنْبَأَنَا أَبُو حَاتِمٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ *(رواه ابن ماجه)
حَدَّثَنَا يُونُسُ وَسُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَا حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي طُوَالَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ سُرَيْجٌ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رِيحَهَا *(رواه الدارمى)
Iklas Dapat Memeberikan Ketenangan Hidup
Barangsiapa yang mengaitkan hidup dan kehidupannya dengan kebenaran ini, hidupnya pasti senang dan sejahtera dan bisa dengan tenang menyiapkan diri untuk menuju akhirat. Barangsiapa yang berpisah dengan dunia (meninggal) dengan ikhlas karena Allah semata-mata dan ia selama hidupnya itu mendirikan shalat, kalau ia mampu ia juga menunaikan zakat, maka ketika ia mati ia tinggalkan dunia ini dalam keadaan Allah rela kepadanya (ia tinggalkan dunia dibawah naungan keridhaan Allah).
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ قَالَ أَنَسٌ وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ قَبْلَ هَرْجِ الْأَحَادِيثِ وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي آخِرِ مَا نَزَلَ يَقُولُ اللَّهُ ( فَإِنْ تَابُوا ) قَالَ خَلْعُ الْأَوْثَانِ وَعِبَادَتِهَا ( وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ ) وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى ( فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ) حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى الْعَبْسِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ مِثْلَهُ
(رواه ابن ماجه)
Ikhlas membuat keadaan selalu segar dalam jiwa, karena ikhlas menuntut agar manusia mengetahui dan memperhitungkan sesuatu dengan baik, diwaktu senang ataupun diwaktu susah, sehingga perasaan ikhlasnya menjadi mantap dan berkesinambungan dalam perjalanan hidupnya.
Ikhlas tidak layu dalam situasi dan kondisi yang berganti-ganti. Manusia yang dalam jiwanya ikhlas, imannya mantap dan amalnya hanya karena Allah Semata, dan tidak karena yang lain.
Namun demikian keikhlasan bisa hilang berangsur-angsur, apabila dalam jiwa telah mulai timbul gejala egoisme dan senang kepada sanjungan manusia, senang mengejar pangkat dan pengaruh yang luas, sengan kepada kebanggaan yang bisa menyeret hidupnya ke jalan yang sesat. Jika keiklasan dalam jiwa telah terkontaminasi oleh hal yang demikian, maka rusaklah amal dan jauhlah dari keridhoan Allah, karena Allah hanya senang kepada pekerjaan yang bersih dan bebas dari polusi hati sebagaimana firman Allah :
إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق فاعبد الله مخلصا له الدين (الزمر : 2)
ٍSesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al0Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (Az-Zumar : 2)
Watak keutamaan dan keikhlasan laksana buah yang matang dan mulus, dan untuk memelihara keselamatan buah agar tetap segar dan mulus, bersih dan manis rasanya, diperlukan perawatan yang baik untuk membebaskan dari hama dan penyakit. Dan hama/penyakit dalam pekerjaan itu adalah riya dimana riya dapat merusak keutamaan dan keikhlasan suatu pekerjaan. Pekerjaan yang sudah terkontaminasi dengan riya, ibarat Jambu Air yang warna dan bentuknya begitu menarik dan menggiurkan siapa saja yang melihatnya, padahal kalau dibuka Jambu air yang warnanya merah menyala dan menggiurkan itu ternyata penuh dengan belatung dan busuk, tak dapat di makan.

Ikhlas dapat menyelamatkan suatu negara, suatu umat dari kehancuran dan Malapetaka.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ *
Dari hadis diatas dapatlah difahami bahwa dengan adanya orang-orang yang lemah, karena do’a mereka, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka. Allah tidak menimpakan suatu malapetaka, musibah, pada suatu kaum. Tetapi, hadis ini jangan di salah artikan dengan pemahaman mafhum mukhalafah, yakni supaya umat ini tidak diberi malapetaka, tidak ditimpakan musibah, baka perbanyaklah kaum dhu’afa, kemudian suruh mereka untuk selalu mendirikan shalat dan ajari mereka untuk berbuat ikhlas.

Tiga Kelompok orang Yang Tidak bisa Ditipu
Ada tiga kelompok manusia yang tidak dapat ditipu, dibohongi dan dipalsukan yakni : Hati seorang muslim yang ikhlas dalam mengerjakan sesuatu karena Allah, orang yang memberi nasehat para pemimpin muslim, dan orang yang selalu berada dalam jamaahnya.

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
(رواه مسلم)

Ikhlas Dalam Ridha dan Marah
أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَمِّي قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْوَاسِطِيِّ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ قَالَ صَلَّى عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ بِالْقَوْمِ صَلَاةً أَخَفَّهَا فَكَأَنَّهُمْ أَنْكَرُوهَا فَقَالَ أَلَمْ أُتِمَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالُوا بَلَى قَالَ أَمَا إِنِّي دَعَوْتُ فِيهَا بِدُعَاءٍ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْإِخْلَاصِ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بِالْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَفِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِين (رواه النسائ)َ
Artinya : Ya Allah, Engkaulah yang mengetahui hal yang gaib, dan kekuasaan-Mu untuk menciptakan, jadikanlah hidupku, jika kehidupanku itu baik menurut-Mu dan matikanlah aku jika menurut-Mu kematian itu baik untuk baik untukku. Dan aku mohon pada-Mu untuk takut pada-Mu diwaktu sunyi dan diwaktu ramai. Dan jadikanlah selalu kalimat ikhlas itu menyertaiku ketika aku dalam keadaan ridho dan marah. Dan aku memohon pada-Mu untuk selalu memberi nikmat yang tiada batasnya. Dan Quratu’ain (keluarga yang enak dipandang, yang selalu menyejukkan hati) yang tiada putusnya. Dan aku mohon padamu untuk selalu ridho pada Qada dan kehidupan yang tenang setelah mati dan kenikmatan melihat Wajah-Mu dan kerinduan pada pertemuan dengan-Mu dan aku berlindung pada-Mu dari bahaya orang-orang yang membahayakan, dari fitnah orang yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang orang yang mendapat petunjuk seperti orang-orang yang engkau beri petunjuk. (HR. Nasa’I)


Do’a Supaya Di beri ketetapan Hati dengan Kalimat Ikhlas
Yang dimaksud dengan kalimat ikhlas disini adalah kalimat tauhid, seperti telah dijelaskan di muka.
قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ ذَرٍّ عَنِ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (رواه أحمد)
Kesehatan Merupakan Sesuatu Hal Yang Penting setelah Kalimat Ikhlas.
Oleh karena itu Rasulullah menganjurkan kita untuk senantiasa meminta kepada Allah agar diberi keyakinan yang kuat dengan selalu mengucapkan kalimat Ikhlas dan selalu diberi kesehatan.
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ قَالَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الْمَلِكِ ابْنَ الْحَارِثِ يَقُولُ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْيَوْمِ مِنْ عَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ اسْتَعْبَرَ أَبُو بَكْرٍ وَبَكَى ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَمْ تُؤْتَوْا شَيْئًا بَعْدَ كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ مِثْلَ الْعَافِيَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ *(رواه أحمد)
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia sangat berharga dan tidak bisa diperjual-belikan. Seperti pepatah menyatakan : kesehatan itu seperti mahkota, yang tidak diketahui keindahannya kecuali oleh orang lain. Maksudnya orang yang sehat tidak merasakan betapa nikmatnya kesehatan itu, akan terasa bahwa kesehatan itu nikmat dan penting ketika sedang sakit.
Namun sayang, sebahagian masyarakat kita masih banyak yang tidak bisa menjaga/kurang memperhatikan kesehatannya. Kekurang mengertian sebagian masyarakat terhadap pentingnya kesehatan karena faktor pengetahuan yang kurang tentang pola hidup sehat, ekonomi yang minim sehingga dengan terpaksa tidak berpola hidup sehat. Disamping upaya untuk melakukan pola hidup sehat, kita juga dianjurkan untuk selalu berdo’a agar senantiasa kita selalu diberi kesehatan.

Simbol dari Ikhlas adalah Mengacungkan Telunjuk padawaktu Tahiyat.
Salah satu simbol dari keikhlasan kita dalam mengerjakan ibadah adalah ketika mengucapkan kalimat syahadat dalam tahiyat, dengan mengacungkan telunjuk sebelah kanan seperti yang terungkap dalam hadis dibawah ini :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ بَنِي تَمِيمٍ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ بِإِصْبَعِهِ يَعْنِي هَكَذَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ ذَاكَ الْإِخْلَاصُ *(رواه أحمد)
Penutup
Untuk mengakhiri pembahasan kita, marilah kita renungkan apa yang dikatakan Ibn Atho’illah,
إدفن وجودك فى ارض الخمول , فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه
Tanamlah wujudmu (dirimu) di dalam bumi kerendahan. Maka sesuatu yang tumbuh tanpa di tanam itu tentu hasilnya tidak akan sempurna.
Untuk itu Marilah kita bekerja dengan ikhlas, janganlah kita campuri dengan maksud-maksud lain. Wallahu A’lam


DAFTAR PUSTAKA

Atho’illah, Ibn, Matnul Hikam, terj Labib MZ, Kuliah Ma’rifat, mencapai hdup bahagia sepanjang masa, (Jakarta : Bintang Pelajar) tt.
al-Gazali, Imam Ihya Ulumuddin, (Baerut : Darul Fikr)juz 4
al-Gazali, Muhamad, Khuluq al-Muslim, alih bahasa oleh M. Rifa’I ahlak seorang muslim (Semarang : Wicaksana) 1986
CD-ROM Mausu’ah Al-Hadits al-Syarif
Ibrahim, Anis dkk, al-Mu’jam alwasith, (Baerut : Darul Fikr) tt. jilid I
Madjid, Nurkholish Islam Doktrin dan Peradaban, sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan (Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina) 1992,
Munawwir, Warson kamus al-Munawwir, (Yogyakarta : Pondok Pesantren Krapyak) 88
an-Nawawi, Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarf, Riyadus Shalihin (Pekalongan : Maktabah Wa Muthaba’ah Raja Murah) t.t
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PN. Balai Pustaka : 1976)
al-Qasimi, Jamaluddin Mau’idhah al-Mu’minin, (Baerut : Darul Kutub al-Ilmiyah) t.t
al-Zuhaili, Wahbah Tafsir al-Munir, (Baerut : Darul Fikr) 1991, juz 30
[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PN. Balai Pustaka : 1976) hal 371
[2] Warson Munawwir, kamus al-Munawwir, hal 388 lihat juga Anis Ibrahim dkk, al-Mu’jam alwasith, jilid I hal 249
[3] Jamaluddin al-Qasimi, Mau’idhah al-Mu’minin, (Baerut : Darul Kutub al-Ilmiyah) hal 301., lihat juga Imam al-Gazali, Ihya Ulumuddin, (Baerut : Darul Fikr)juz 4 hal 379
[4] Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Baerut : Darul Fikr) juz 30 hal 461
[5] Imam al-Ghazali Op.cit, jilid IV hal, 373
[6] Nurkholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, sebuah telaah kritis tentang masalah keimanan, kemanusiaan dan kemoderenan (Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina) 1992, hal 41
[7] ibid, hal 48 lihat juga Ibn Atho’illah, Matnul Hikam, terj Labib MZ, Kuliah Ma’rifat, mencapai hdup bahagia sepanjang masa, (Jakarta : Bintang Pelajar) tt. Hal 52 teks lengkapnya adalah sebagai berikut :تنوعت أجناس الاعمال لتنوع واردات الاحوال الاعمال صور قائمة وارواحها وجود سر الاخلاص فيها
[8] ibid, h. 50
[9] Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syarf an-Nawawi, Riyadus Shalihin (Pekalongan : Maktabah Wa Muthaba’ah Raja Murah t.t) hal 6
[10] Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Riyadus Shalihin min Kalami Sayyidil Mursaliin (Pekalongan : Raja Murah) t.t, hal 6. Lihat juga Shahih bukhari, CD ROM, dalam kitab al-Iman nomor hadis 52
[11] Ibn Atho’illah, op.cit, hal 53
[12] Imam al-Ghazali, op.cit, hal 362
[13] Disadur dari Ihya Ulumuddin, Jilid IV hal 377
[14] dikutip dari Ihya Ulumuddin Jilid IV hal 377

[Y01]

No comments: